Just another WordPress.com site

Image

      Agroindustri merupakan salah satu cabang industri yang mempunyai kaitan yang erat dan langsung dengan sektor pertanian. Agroindustri juga mempunyai peranan yang sangat penting karena pada umumnya mampu menghasilkan nilai tambah dari produk segar hasil pertanian. Pengertian agroindustri selama ini hanya didefinisikan dalam arti yang sempit, mungkin hanya diartikan sebagai proses budidaya tanaman untuk pangan saja, namun dengan perkembangan pengetahuan, agroindustri telah diartikan dalam bidang yang lebih luas lagi, seperti tercakup dalam rangkaian usaha agribisnis, mulai dari pembibitan, pembudidayaan, pemanenan, pengadaan sarana produksi pertanian (pupuk, insektisida, oil) serta pengelolaan dan pemasarannya serta tercakup dalam sektor perikanan dan peternakan. Salah satu bahan agroindustri yang saat ini sedang dikembangkan adalah biji kakao (Theobroma cacao).

Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang dapat memberikan kontribusi untuk peningkatan devisa Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan Ghana (20,2%) dengan persentasi 13,6%. Permintaan dunia terhadap komoditas kakao semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik bagi Indonesia karena sebenarnya Indonesia berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia. Namun, kualitas biji kakao yang diekspor oleh Indonesia dikenal sangat rendah (berada di kelas 3 dan 4). Hal ini disebabkan oleh, pengelolaan produk kakao yang masih tradisional (85% biji kakao produksi nasional tidak difermentasi) sehingga kualitas kakao Indonesia menjadi rendah. Kualitas rendah menyebabkan harga biji dan produk kakao Indonesia di pasar internasional dikenai diskon USD200/ton atau 10%-15% dari harga.

Hasil Pertanian Kakao Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia setelah Hasil Pertanian Kakao Pantai Gading dan Hasil Pertanian Kakao Ghana . Hasil pertanian kakao itu diperoleh dari pertanian kakao dengan luas areal 1.563.423 ha dan produksi 795.581 ton yang mampu menyerap 1.526.271 kepala keluarga, angka yang sangat fantastis dan spektakuler dibandingkan dengan hasil pertanian yang lain. Seperti yang telah diprediksi oleh deptan, hasil pertanian kakao ini diprediksi akan ekspor kakao Indonesia Tahun 2009 mengalami penurunan 30 % atau total ekspor hanya 248.000 – 406.000 ribu ton atau setara dengan potensi kehilangan pendapatan ekspor sebesar USD.57 juta – USD 114.

Berdasarkan data terakhir dari ICCO (International Cacao and Coffee Organization) menunjukkan kebutuhan Hasil Pertanian Kakao dunia saat ini diperkirakan sebesar 3,299 juta ton. Untuk produksi biji kakao hanya sebesar 3,288 juta ton. Ini berarti penawaran Hasil Pertanian Kakao dunia kurang sekitar 110.000 ton. Indonesia dalam komoditas Hasil Pertanian Kakao ini, memegang peran strategis. Produksi Hasil Pertanian Kakao Indonesia saat ini atau tahun 2006 ini mencapai 435.000 ton pertahun. Maka negara kita menjadi ketiga terbesar dunia penghasil kakao setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika dengan pangsa produksi sebesar 13,23 persen dari total produksi Hasil Pertanian Kakao dunia. Produksi ini masih akan ditingkatkan hingga mencapai 600.000 ton pada tahun 2010.

Kita melihat sekarang, posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu produsen kakao terbesar di Indonesia. Luas areal perkebunan 181.276 Ha atau sekitar 19,83 % dari jumlah luas areal perkebunan kakao nasional. Kakao tersebar di 17 provinsi termasuk Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua dan beberapa daerah lain. Diharapkan para pelaku usaha agribisnis cacao Indonesia dapat berpartisipasi dalam event Eurocholate 2009 yang merupakan salah satu event bagi brand image Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kakao terbesar dan juga dalam promosi dan ekspansi pasar Internasional.

Pada 2011 ini, terdapat investasi baru, yaitu PT. Asia Cocoa Indonesia, yang merupakan perluasan dari perusahaan pengolahan cokelat Guan Chong Cocoa Manufacturer Sdn, Bhd di Malaysia dengan kapasitas produksi mencapai 60.000 ton/tahun yang akan ditingkatkan menjadi 120.000 ton/tahun pada Maret  2012 dengan investasi sekitar US$ 24 juta. data ekspor biji kakao yang menurun pada 2010 dibandingkan pada 2009. Sedangkan ekspor biji kakao sampai dengan Mei 2011 mencapai 97.265 ton, turun dibandingkan dengan ekspor Jan-Mei 2010 sebesar 158.855 ton. Sedangkan ekspor kakao olahannya meningkat pada periode Jan-Mei 2011 sebesar 55.651 ton dibandingkan Jan-Mei 2010 sebesar 35.508 ton.

 

 

 

Deskripsi

2009

2010

(Jan-Mei 2010)

(Jan-Mei 2011)

Berat (mt)

Nilai(juta US $)

Berat (mt)

Nilai(juta US $)

Berat (mt)

Nilai(juta US $)

Berat (mt)

Nilai(juta US $)

Biji Kakao

439.305

1.087

432.427

1.191

158.855

448,3

97.265

289,4

Kakao Olahan

82.540

296

103.055

406

35.508

142

55.651

216,4

Cokelat

7.993

22

11.765

35

4.084,80

12,2

5.047

16

Pada 2011 ini beberapa industri yang semula mati suri bangkit kembali dan beberapa perusahaan melakukan perluasan. Namun, peningkatan kapasitas tersebut belum signifikan pada tahun ini karena perlu waktu untuk menjalankan kembali industri yang sudah berhenti beberapa tahun dan untuk industri yang ekspansi, pemesanan mesin dan peralatannya memakan waktu minimal satu tahun. Disamping  itu, ada beberapa perusahaan yang melakukan perluasan di antaranya PT. General Food Industry, PT. Bumitangerang Mesindotama, PT. Cocoa Ventures Indonesia, PT.Teja Sekawan, PT.Kakao Mas Gemilang, PT. Gandum Mas Kencana, PT. Freyabadi Indotama dan  PT. Sekawan Karsa Mulia.

Jumlah kapasitas produksi dari lima perusahaan tersebut meningkat dari  dari 188.875 ton menjadi 281.950 ton, sebagaimana dirinci pada tabel dibawah ini.

NO

PERUSAHAAN

LOKASI

KAPASITAS TERPASANG

PENAMBAHAN(TON)

SEMULA(TON)

MENJADI(TON)

1

PT. General Food Industry

Bandung

80.000

100.000

20.000

2

PT. Bumitangerang Mesindotama

Tangerang

48.000

96.000

48.000

3

PT. Cocoa Ventures Indonesia

Medan

7.000

14.000

7.000

4

PT. Teja Sekawan

Surabaya

15.000

24.500

9.500

5

PT. Kakao Mas Gemilang

Tangerang

375

450

75

6

PT. Gandum Mas Kencana

Tangerang

10.000

15.000

5.000

7

PT. Freyabadi Indotama

Karawang

22.500

25.000

2.500

8

PT. Sekawan Karsa Mulia

Jakarta

6.000

7.000

1.000

 

Total

 

188.875

281.950

93.075

 

 

 

 

POHON INDUSTRI KAKAO

 

 

Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI), Piter Jasman menceritakan, sebelum tahun 2000, Indonesia memiliki tak kurang dari 30 industri pengolahan kakao. Namun jumlah itu kian menyusut. Tinggalah kini tersisa 15 industri saja dengan kapasitas terpasang 314 ribu ton per tahun, tetapi realisasi produksinya baru 165.500 ton per tahun. beberapa kejadian besar yang memukul industri kakao nasional adalah hengkangnya PT General Food Industries (Delfi Group) pada 2002 ke Malaysia. Lalu, menginjak awal 2005, PT Inti Kakao Abadi Industries menyetop produksi dan merumahkan sekitar 200 karyawannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: