Just another WordPress.com site

Image

 

Pengemasan disebut juga pembungkusan, pewadahan atau pengepakan, dan merupakan salah satu cara pengawetan bahan hasil pertanian, karena pengemasan dapat memperpanjang umur simpan bahan.  Pengemasan adalah wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas / dibungkusnya.

Hingga saat ini kebutuhan akan kemasan sangat besar, baik itu untuk kemasan pangan maupun industrial. Kemasan diperlukan untuk melindungi produk, memudahkan pendistribusiannya serta menarik konsumen baik karena segi memperindah maupun informasi yang disajikan kemasan tersebut.

Kemasan yang paling banyak penggunaannya saat ini adalah kemasan plastik, yaitu plastik sintetik karena kemudahan dalam penggunaan dan pembuatannya, murah, relatif tahan utuk dijadikan pengemas serta banyak tersedia. Tetapi dalam pembuangannya plastik sintetis ini tidak dapat diuraikan oleh tanah maupun oleh organisme. Karena itu tumpukan sampah terutama plastik yang sudah digunakan hingga sekarang sangatlah banyak dan tidak dapat dibersihkan.

Hal tersebut membutuhkan penanggulangan yang bisa mengurangi sampah barang kemasan yang ada saat ini serta dalam jangka panjang sampah-sampah tersebut tetap bisa direduksi.

 

Sebelum dibuat oleh manusia, alam juga telah menyediakan kemasan untuk bahan pangan, seperti jagung dengan kelobotnya, buah-buahan dengan kulitnya, buah kelapa dengan sabut dan tempurung, polong-polongan dengan kulit polong dan lain-lain.  Manusia juga menggunakan kemasan untuk pelindung tubuh dari gangguan cuaca, serta agar tampak anggun dan menarik

Dalam dunia moderen seperti sekarang ini, masalah kemasan menjadi bagian kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama dalam hubungannya dengan produk pangan. Sejalan dengan itu pengemasan telah berkembang dengan pesat menjadi bidang ilmu dan teknologi yang makin canggih. Semakin lama semakin meningkatnya kebutuhan manusia akan produk dan kemasan, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.

 Ruang lingkup bidang pengemasan saat ini juga sudah semakin luas, dari mulai bahan yang sangat bervariasi hingga model atau bentuk dan teknologi pengemasan yang semakin canggih dan menarik. Bahan kemasan yang digunakan bervariasi dari bahan kertas, plastik, gelas, logam, fiber hingga bahan-bahan yang dilaminasi.  Namun demikian pemakaian bahan-bahan seperti papan kayu, karung goni, kain, kulit kayu , daun-daunan dan pelepah dan bahkan sampai barang-barang bekas seperti koran dan plastik bekas yang tidak etis dan hiegenis juga digunakan sebagai bahan pengemas produk pangan. Bentuk dan teknologi kemasan juga bervariasi dari kemasan botol, kaleng, tetrapak, corrugated box, kemasan vakum, kemasan aseptik, kaleng bertekanan, kemasan tabung hingga kemasan aktif dan pintar (active and intelligent packaging) yang dapat menyesuaikan kondisi lingkungan di dalam kemasan dengan kebutuhan produk yang dikemas.

Dalam pengemasan saat ini banyak menggunakan bahan kertas, plastik, gelas, logam serta fiber yang relatif mudah didapat serta tahan untuk dijadikan kemasan pangan. Bahan kemasan ini memiliki banyak keunggulan lainnya seperti kertas yang mudah dibentuk, tidak dapat dipanaskan, fleksibel, mudah diberi hiasan. Plastik yang fleksibel, tahan panas, tidak tembus udara, dan juga mudah dibentuk serta mudah didapat saat ini. Logam memiliki sifat kuat, bentuk kaku, dapat dilakukan pemanasan, serta ringan.

Meskipun demikian pemakaian bahan kemasan di atas memiliki masalah yang sama, yaitu bahan kemasan tersebut tidak dapat diurai oleh tanah (non-biodegradable), sehingga kendala yang terjadi banyaknya sampah yang ditinggalkan oleh produk yang menggunakan kemasan tersebut.

Oleh karena itu, seiring dengan kesadaran manusia akan persoalan ini, maka penelitian bahan kemasan diarahkan pada bahan-bahan organik, yang dapat dihancurkan secara alami dan mudah diperoleh.  Kemasan ini disebut dengan kemasan masa depan (future packaging).  Sifat-sifat kemasan masa depan diharapkan mempunyai bentuk yang fleksibel namun kuat, transparan, tidak berbau, tidak mengkontaminasi bahan yang dikemas dan tidak beracun, tahan panas, biodegradable dan berasal dari bahan-bahan yang terbarukan.  Bahan-bahan ini berupa bahan-bahan hasil pertanian seperti karbohidrat, protein dan lemak.

Kemasan biodegradable yang dikembangkan saat ini memiliki sifat mudah ramah lingkungan, yaitu mudah terurai, dan tidak menimbulkan efek berbahaya bagi bumi. Penggunaan kemasan biodegradable merupakan salah satu bentuk usaha manusia untuk mengurangi penumpukan sampah yang semakin lama semakin tidak terkendali belakangan ini. Penumpukan sampah terjadi karena sampah seperti plastik yang berbentuk polimer sintetis yang sangat sulit terurai oleh bumi, atau yang lebih tepatnya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai oleh bumi. Dengan tujuan tersebut dibuatlah kemasan plastik yang terbuat dari serat tanaman yang kita kenal dengan plastik biodegradable. Selain mudah terurai oleh bumi, plastik biodegradable juga tidak menghasilkan gas metana atau yang kita kenal dengan sebutan gas rumah kaca. Oleh karena itu penggunaan plastik biodegradable sebagai pengganti plastik konvensional akan sangat berdampak baik terhadap lingkungan, terutama untuk mengurangi penumpukan sampah dan emisi gas rumah kaca di atmosfer bumi.

Ada dua jenis utama plastik biodegradable di pasar yaitu hidro-biodegradable plastik (HBP) dan okso-biodegradable plastik (OBP). Keduanya diperoleh dengan kimia natrium degradasi karbon dioxode dengan hidrolisis dan oksidasi masing-masing. Hal ini menyebabkan disintegrasi fisik mereka dan pengurangan drastis dalam berat molekul mereka.

OBPs dibuat dengan menambahkan sebagian kecil dari senyawa logam transisi tertentu (zat besi, mangan, kobalt dan nikel yang umum digunakan) ke plastik normal seperti polietilena (PE), polypropylene (PP) dan polistirena (PS). Aditif tersebut bertindak sebagai katalis untuk mempercepat degradasi oksidatif yang normal, meningkatkan proses peluruhan hingga beberapa kali lipat (faktor dari 10).

Produk-produk dari degradasi oksidatif dikatalisasi dari poliolefin yang persis sama seperti untuk poliolefin konvensional karena, selain sejumlah kecil aditif yang hadir, plastik yang poliolefin konvensional. Hidrokarbon komersial yang berguna (misalnya, minyak goreng, poliolefin, plastik lainnya) mengandung sejumlah kecil aditif yang disebut antioksidan yang mencegah degradasi oksidatif selama penyimpanan dan penggunaan. Antioksidan berfungsi dengan ‘menonaktifkan’ radikal bebas yang menyebabkan degradasi. Umur simpan  tergantung kontrol oleh tingkat antioksidan dan tingkat degradasi setelah pembuangan dikendalikan oleh jumlah dan sifat katalis.

HBPs cenderung menurunkan dan terurai agak lebih cepat daripada OBP, tetapi mereka harus dikumpulkan dan dimasukkan ke unit kompos industri. Hasil akhirnya adalah sama – keduanya dikonversi menjadi karbon dioksida (CO 2), air (H 2 O) dan biomassa. OBP umumnya lebih murah, memiliki sifat fisik yang lebih baik dan dapat dibuat dengan peralatan pengolahan plastik saat ini. Namun, HBP memancarkan metana dalam kondisi anaerobik, tapi OBP tidak.

Poliester memainkan peran utama dalam hidro-biodegradable plastik karena ikatan ester berpotensi hydrolysable mereka. HBP dapat dibuat dari sumber daya pertanian seperti jagung, gandum, tebu, atau fosil (minyak bumi berbasis) sumber daya, atau campuran dari keduanya. Beberapa yang sering digunakan polimer termasuk PHA (polyhydroxyalkanoates), PHBV (polihidroksibutirat-valerat), PLA ( polylactic acid ), PCL ( polikaprolakton ), PVA ( polivinil alkohol ), PET ( polyethylene terephthalate ) dan lainnya,  akan menyesatkan jika menyebutnya “terbarukan” karena proses produksi pertanian membakar sejumlah besar hidrokarbon dan memancarkan sejumlah besar CO 2. OBPs (seperti plastik biasa) yang dibuat dari produk sampingan dari minyak atau gas alam, yang akan diproduksi atau tidak dengan produk yang digunakan untuk membuat plastik.

Industri HBP teknologi mengklaim HBP dapat terurai karena memenuhi ASTM D6400-04 dan EN 13432 Standar. Namun, kedua standar sering dikutip terkait dengan kinerja plastik di lingkungan kompos dikelola secara komersial. Mereka tidak standar biodegradasi. Keduanya dikembangkan untuk hidro-biodegradable polimer dimana mekanisme termasuk biodegradasi didasarkan pada reaksi dengan air dan menyatakan bahwa dalam rangka untuk produksi menjadi kompos.

Sekarang teknologi biodegradable merupakan pasar yang sangat maju dengan aplikasi di kemasan produk, produksi dan obat-obatan. Biodegradable teknologi yang bersangkutan dengan ilmu pembuatan bahan biodegradable. Ini memberlakukan mekanisme berbasis ilmu genetika tanaman ke dalam proses hari ini. Para ilmuwan dan perusahaan manufaktur dapat membantu dampak perubahan iklim dengan mengembangkan penggunaan genetika tanaman yang akan meniru beberapa teknologi ini. Dengan melihat tanaman, seperti bahan biodegradable dipanen melalui fotosintesis, limbah dan racun dapat diminimalkan.

Okso-biodegradable teknologi, yang telah dikembangkan lebih lanjut setelah plastik biodegradable , juga muncul. Dengan menciptakan produk dengan molekul polimer yang sangat besar dari plastik, yang hanya berisi karbon dan hidrogen , dengan oksigen di udara, produk ini mampu membusuk di mana saja dari seminggu untuk 1-2 proses degradasi kimia years. Melibatkan reaksi yang sangat besar polimer molekul dari plastik, yang mengandung karbon dan hidrogen saja, dengan oksigen di udara. Reaksi ini terjadi bahkan tanpa aditif prodegradant tetapi pada tingkat yang sangat lambat. Itulah sebabnya plastik konvensional, saat dibuang, bertahan untuk waktu yang lama di lingkungan. Dengan reaksi ini, formulasi mengkatalisasi dan mempercepat proses biodegradasi.

Biodegradable teknologi terutama digunakan oleh bio-medis masyarakat. Polimer biodegradable diklasifikasikan menjadi tiga kelompok: aplikasi medis, ekologi, dan dual, sedangkan dilihat dari sumbernya bahan ini  dibagi menjadi dua kelompok yaitu alami dan sintetik. Aplikasi  lain yang termasuk penggunaan biodegradable, elastis bentuk-memori polimer. Bahan implan biodegradable sekarang dapat digunakan untuk prosedur bedah minimal invasif melalui polimer termoplastik terdegradasi.

Meskipun plastik biodegradable ini bagus untuk lingkungan, tetapi untuk produksinya memerlukan biaya yang mahal sehingga harga kantong plastik biodegradable ini juga relatif tinggi. Konsumen serta produsen tetap memakai plastik konvensional karena harganya yang relatif murah serta mudah didapat.Adapun usaha menjaga lingkungan selain membuat biodegradable plastik adalah dengan 3R, Reduse, Reduce, Recycle. Yang paling tidak dapat mengurangi limbah pemakaian plastik konvensional.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: