Just another WordPress.com site

Hasil rumusan Simposium Nasional Agroindustri IV

Kaukus 1
Agroindustri adalah mengolah hasil pertanian untuk mendapatkan nilai tambah, pada dasarnya pertanian terbagi menjadi tiga generasi yaitu yang pertama generasi penyediaan bibit yang unggul dan genersai kedua adalah pengembangan budidaya pertanian dengan produktivitas yang tinggi dan pertanian generasi ketiga adalah generasi yang menyempurnakan nilai tambah pertanian yaitu generasi Agroindustri, yaitu industry yang mengolah hasil pertanian . Proses dalam agroindustri akan meningkatkan diversifikasi dan fungsi produk yang dihasilkan. Diversifikasi produk tersebut pada akhirnya akan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Dalam kenyataannya kita memiliki tantangan dan sekaligus harapan bagi pengembangan agroindustri di Indonesia adalah bagaimana dapat meningkatkan nilai tambah produk-produk pertanian dan sekaligus menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasaran dunia.
Sejalan perkembangan teknologi terkini di bidang Agroindustri pertanian, teknologi proses menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam rangka pengembangan iptek untuk industrialisasi secara umum, dan agroindustri pada khususnya. Ada 4 Teknologi terkini di bidang agroindustri yaitu, teknologi nano (nano technology), teknologi bio (biotechnology), teknologi hijau(green technology), seperti yang disebutkan tadi dalam teknologi terkini juga di bagi atas tiga tahapan utama yang secara umum dapat di deskripsikan sebagai berikut:
1. Proses hulu: Serangkaian perlakuan yang dilibatkan pada bahan mentah sehinnga dapat digunakan sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme .
2. Fermentasi dan trasformasi: penumbuhan mikro organisme sasaran dalam bioreactor besar (biasanya lebih dari 100 liter) yang diikuti dengan produksi (hasil biotrasformasi ) bahan yang di inginkan, misalnya: antibiotic,asam amino,enzim, atau asam-asam organik.
3. Proses hilir: Pemisahan dan pemumian senyawa atau bahan yang diinginkan dari medium fermentasi atau dari massa sel(biomasa).
Dalam pembangunan agroindustri tidak hanya melibatkan pihak pemerintah saja tetapi harus melibatkan pihak suasta.Agroindustri sering di anggap sebagai usaha yang memiliki resiko cukup tinggi, dengan modal kerja yang besar dan waktu yang panjang, tentunya pihak investor perlu mendapatkan keyakinan investasinya aman dijamin secara hokum. Peran pemerintah yang sangat diharapkan untuk mengembangkan agroindustri, di sini kita memerlukan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan infrastruktur yang harus dikerahkan. Pemerintah selayaknya berpikir seperi investor Negara yang akan memperoleh investasinya secra long term, pihak suasta dengan sendirinya akan mengambil peran apabila ada kegiatan ekonomi yang memberikan harapan keuntungan. Mengingat kompleksnya permasalahan pengembangan agroindustri, namun semua menyadari bahwa agroindustri memiliki prospek yang sangat baik, maka untuk mewujudkan agroindustri menjadi salah satu pilar struktur industry yang kuat di Indonesia, terdapat dua egenda utama yang harus dirancang dan dilaksanakan secara konsisten adalah strategi pengembangan dan transformasi teknologi serta strategi serta strategi pemasran produk.

Kaukus 2
“Agroindustri untuk Mengatasi Kemiskinan, Pengangguran, dan Ketahanan Pangan”

Agroindustri merupakan solusi yang tepat dalam mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran, dan ketahanan pangan bagi bangsa Indonesia yang secara wilayah masuk kedalam negara agraris. Bisnis agroindustri harus dikelola secara terintegrasi agar mampu mengakomodir kepentingan semua pelaku serta berkeadilan. Dalam pengembangan agroindustri perlu diciptakan iklim usaha yang kondusif, baik oleh perusahaan besar milik swasta dan negara maupun oleh koperasi petani dan masyarakat pedesaan atau pesisir. Selain itu, perlu adanya perbaikan pada semua tahapan bisnis serta adanya kolaborasi secara aktif dengan perguruan tinggi yang bisa menjadi ‘agen perubahan’. Untuk komoditi agroindustri, perlu adanya pengoptimalan dalam pemanfaatan bahan, setiap pelaku agroindustri harus mengetahui komoditi unggulan dari masing-masing daerah.

kaukus 3
PEMBIAYAAN AGROINDUSTRI
Oleh Ogi Prastomiyono dan Nasirwan Ilyas

Secara general subsektor pembiayaan peretanian dibagi menjadi 3(agrikultur, agribisnis, dan agroindustri), setiap subsektor memiliki berbagai masalah pembiayaan yang berbeda sehingga memunculkan suatu kewajiban bagi pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Faktanya,pembiayaan yang terkait sektor pertanian menyerap 40% tenaga kerja dan menyumbang 15.6% PDB menggunakan luas lahan sebesar 71.3 % luas lahan keseluruhan. Namun, sektor yan tumbuh positif hanyalah0.38% saat terjadi krisis tahun 1998/1999.
Hal ini memunculkan wacana untuk mendirikan Bank Pertanianyang bertujuan untuk mendedikasikan peembiayaan secara meluas pada dunia pertanian. Wacana ini muncul didasarkanpada pasal 5 UU Perbankan No. 10 tahun 1998 yang berbunyi,”Bank umum dapat mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentuatau membarikan perhatian yang lebih besar kepada kegiatan tertentu”.
Akibat dari adanya wacana tersebut mengakibatkan terbentuknya dua opini,opini pertama mengatakan pendirian Bank Pertanian merupakan suatu tindakan positif dan suatu kepedulian terhadap dunia pertanian. Opini kedua mengatakan bahwa kehadiran Bank Pertanian ini dapat dikatakan suatu ketidak konsistenan kebijakan dan semangat penataan perbankan yang sudah digariskan sejak liberalisasi sektor perbankan tahun 1980-an.
Pendirian bank pertanian dapat dipadang sebagai opsi jangka menengah panjang,mengingat banyaknya persyaratan yang masih harus dipenuhi,selain itu untuk jangka pendek opsi pendirian lembaga pembiayaan pertanian menjadi lebih rasional. Keunggulan dari lembaga ini adalah kecepatan dalam pembiayaan pertanian yang dapat langsung serahkan kepada petani.
Untuk mengatasi pembiayaan pertanian,sistim perbankan syariah dipandang sebagai suatu penyelesaian masalah yang paling tepat untuk saat ini. Terdapat beberapa alasan pengembangan:
• Skema pembiayaan syariah yang mengedepankan prinsip bagi hasil sama dengan tradisi yang mengakar di masyarakat.
• Secara konsep dan praktek dapat melayani seluruh level pertanian.
• Sesuai dengan kebijakan makro perbankan syariah.
Selain itu,pembiayaan dapat ditingkatkan dengan menerapkan prinsip erbankan syariah dalam kegiatan agribisnis,ataralain:
1. Menciptakan forum dan mekanisme mediasi.
2. Riset dan project skimpembiayaan usaha tani pola syari’ah.
3. Pengembangan skim penjamin pembiayaan usaha kecil pertanian.
4. Pengebangan pola bantuan teknis atau linkage program.

Kaukus4
“Memanfaatkan FTA (Free Trade Area) untuk pengembangan pasar ekspor agroindustri nasional”
Secara umum adanya perjanjian perdagangan bebas, menguntungkan bagi Indonesia yaitu memperbesar pertumbuhan ekspor non migas ke negara-negara tersebut. Sector non migas, sebagian besar didukung oleh agroindustri , sehingga adanya perjanjian perdagangan bebas akan sangat membantu perkembangan agroindustri nasional. Banyak agroindustri nasional yang bergantung pada ketersediaan bahan baku impor, Peraturan yang bersifat proteksi terhadap impor bahan baku agroindustri bisa menyebabkan kehancuran agroindustri nasional, oleh karena itu dilakukan deregulasi impor bahan agroindustri, Dalam menentukan kebijaksanaan proteksi impor bahan baku agroindustri.
Pemerintah harus memperhatikan kepentingan semua pihak, Sebelum menentukan kebijaksanaan pembatasan impor bahan baku agroindustri, perlu dilakukan terlebih dahulu studi secara mendalam dan menyeluruh tentang kebutuhan dan suplai bahan baku tersebut, Pemerintah perlu selalu ingat bahwa dengan adanya perdagangan bebas dan peraturan dari WTO, semua keputusan yang melanggar bisa dikenakan sanksi oleh PA, Banyak impor bahan baku industry bukanlah hal yang tidak nasionalis. Impor bahan baku yang nantinya akan diproses dan diekspor lagi justru akan memperkuat ekonomi negara.

Kaukus 5
“Peran Agroinsutri untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional”
Agroindustri berperan dalam membantu ketahanan energi nasional. Dengan semakin berkurangnya sumberdaya energi yang tek terbarukan yang saat ini digunakan, maka dengan agroindustri sangat berperan dalam membantu ketahanan energy nasional. Seperti penggunaan BBN (bahan bakar nabati) untuk penggantian BBM (bahan bakar minyak), karena kebutuhan BBM di Indonesia adalah sekitar 215 juta liter per hari, di pihak lain produksi dalam negeri hanya mencapai 178 juta liter per hari. Jika hal ini terus terjadi maka dengan menipisnya cadangan minyak, maka import BBM akan terus meningkat dan berarti akan menguras APBN untuk mensubsidi BBM untuk rakyat.
Salah satu BBN yang potensial di Indonesia adalah bioetanol, berbeda deengan BBM, bioetanol secara intrinsic memiliki elemen oksigen dalam molekulnya yanbg cukup untuk menjamin kecukupanm oksigen untuk pembakaran yang lebih sempurna. Selain itu nilai oktannya relative lebih tinggi, serta tidak memerlukan timbale untuk katalis, sehingga realtif akan ramah lingkungan. Namun dalam pelaksanaan program penggunaan BBN ini menemui banyak kendala seperti keberlanjuitan produksi, harga yang masih mahal, serta kebijakan yang belum sepenuhnya memihak pada program ini.

Kaukus 6
“Pendidikan dan Technopreneurship”
Pendidikan tinggi agroindustri sudah mulai berkembang di Indonesia,sejak tahun 1981, IPB adalah pionir pendidikan agroindustri di indonesia. Selain itu diharapkan akan tercipta technopreneurship yang dapat mengem,bangkan agroindustri di Indonesia untuk kemajuan bangsa.

2. Sumber daya hayati
Tumbuhan
Tumbuhan merupakan sumber daya alam yang sangat beragam dan melimpah. Organisme ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan oksigen dan pati melalui proses fotosintesis. Oleh karena itu, tumbuhan merupakan produsen atau penyusun dasar rantai makanan. Eksploitasi tumbuhan yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan bahkan kepunahan dan hal ini akan berdampak pada rusaknya rantai makanan. Kerusakan yang terjadi karena punahnya salah satu faktor dari rantai makanan akan berakibat punahnya konsumen tingkat di atasnya. Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia diantaranya:
• Bahan makanan: padi, jagung,gandum,tebu
• Bahan bangungan: kayu jati, kayu mahoni
• Bahan bakar (biosolar): kelapa sawit
• Obat: jahe, daun binahong, kina, mahkota dewa
• Pupuk kompos.[8]
Pertanian dan perkebunan
Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. Data statistik pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 45% penduduk Indonesia bekerja di bidang agrikultur. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa negara ini memiliki lahan seluas lebih dari 31 juta ha yang telah siap tanam, dimana sebagian besarnya dapat ditemukan di Pulau Jawa.[19] Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan komoditi ekspor, antara lain padi, jagung, kedelai, sayur-sayuran, cabai, ubi, dan singkong. Di samping itu, Indonesia juga dikenal dengan hasil perkebunannya, antara lain karet (bahan baku ban), kelapa sawit (bahan baku minyak goreng), tembakau (bahan baku obat dan rokok), kapas (bahan baku tekstil), kopi (bahan minuman), dan tebu (bahan baku gula pasir).
Hewan, peternakan, dan perikanan
Sumber daya alam hewan dapat berupa hewan liar maupun hewan yang sudah dibudidayakan. Pemanfaatannya dapat sebagai pembantu pekerjaan berat manusia, seperti kerbau dan kuda atau sebagai sumber bahan pangan, seperti unggas dan sapi. Untuk menjaga keberlanjutannya, terutama untuk satwa langka, pelestarian secara in situ dan ex situ terkadang harus dilaksanakan. Pelestarian in situ adalah pelestarian yang dilakukan di habitat asalnya, sedangkan pelestarian ex situ adalah pelestarian dengan memindahkan hewan tersebut dari habitatnya ke tempat lain. Untuk memaksimalkan potensinya, manusia membangun sistem peternakan, dan juga perikanan, untuk lebih memberdayakan sumber daya hewan.
3. Beberapa Alternatif Energi dari Pertanian di Indonesia
1. Energi sinar matahari
Indonesia memiliki keuntungan cukup besar karena berada di sekitar khatulistiwa, dimana setiap waktu perbedaan rata rata sinar radiasi matahari yang tidak terlalu besar antar wilayah. Namun sayangnya, sampai saat ini belum terdapat peta radiasi sinar matahari yang te pat untuk menjadi dasar bagi pengembangan teknologi energi matahri ini.Berbeda dengan Thailand yang situasinya hampir mirip dengan Indonesia, negara ini telah memiliki peta radiasi sinar matahari dengan menggunakan citra satelit yang dikumpulkan selama 6 tahun (1993-1998), dan data dikumpulkan melalui satelit bumi (Pressea, 2003). Data tersebut digunakan untuk mengembangkan model fisik guna memperkirakan rata-rata radiasi sinar matahari pada setiap interval waktu dan lokasi di seluruh wilayah Thailand, informasi seperti ini seharusnya dimiliki oleh Indonesia untuk mengembangkan hal yang sama sesuai dengan kondisi wilayah yang diinginkan.
2. Bio energi
Merupakan konversi bio-masa kepada panas, cair, atau bahan bakar gas. Bio-energi dipertimbangkan kekurangan pasokan bahan bakar minyak. Bio-masa tersebut dapat berbentuksebagai bahan tanaman dan pepohonan, bahan pangan dan pakan, sisa atau limbah industri tanaman dan hewan, kayu dan limbahnya, tanaman aquatic, limbah kota dan bahan limbah lainnya. (EREN, 2001). Semua aspek yang berkaitan dengan Bio-energi sangat erat dengan Bio-masa, yang intinya adalahsebagai alternatif teknologi penanganan, pengumpulan, penyimpanan dan prasarana adalah aspek penting dari rantai sumber bio-masa.Beberapa bentuk pengembangan atau penggunaan energi bio-masa adalahsebagai berikut :
a. Biogas
Biogas diproduksi dari limbah, manusia, hewan atau bahan pertanian lain(sekam) yang dapat berupa bahan bakar yang bersih. Jika dikembangkan secara terencana dapat memberikan kontribusi yang baik. Biogas ini dapat diperoleh dengan cara pembusukan bahan limbah, kotoran atau tumbuhan yang dapat menghasilkan gas metana. Gas ini termasuk gas yang mdah terbakar.
b. Briket Arang.
Pengembangan Briket Arang dari kayu, tempurung kelapa, sisa bahan kelapa sawit, sekam dan limbah dan hasil pertanian lainnya, merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui, termasuk dalam hal ini adalahpengembangan pengering berbahan bakar sekam (rice husk stove),charcoal yang memiliki potensi komersial yang tinggi.
c. Bio fuels
Bahan bakar dengan basis sumber biomasa sangat dimungkinkan seperticontoh adalah : ethanol, methanol, bio-diesel, bahan gas seperti hydrogen dan methana. Sebagai negara penghasil produk pertanian dan sumberdaya lahan yang masih cukup potensial, peluang tersebut dapat diusahakan.
d. Energi Air dan Angin
Angin dan air juga dapat dipakai sebagai energi alternatif dengan mengkonversikannya menjadi energi listrik atau energi mekanik. Kincir air dapat ditemui di beberapa tempat penggilingan padi, atau untuk keperluan irigasi. Namun manajemen lingkungan dan perubahan teknologi telah menggeser kedudukan teknologi indigenous ini di Sumatera Barat sebagai sumber penggerak dengan teknologimenyebabkan berubahnya kemampuan untuk menyediakan energi secara alami yang bebas polusi dan investasi pemeliharaan sehingga keberlanjutan di tingkat pedesaaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: