Just another WordPress.com site

Tugas Responsi Hari/ Tanggal : Selasa/ 8 Mei 2012
Manajemen Lingkungan Industri Dosen : Prof. Dr. Ir. Suprihatin

Integrated River Management

Disusun oleh:
1. Daud Geraldy S. F34100001
2. Ridha Alfhia F34100018
3. Feri Julianto F34100114
4. M. Adhi Baskara F34100134
5. Daniel Kristianto F34100151
6. Alfyandi F34100155

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai salah satu hal yang berperan dalam siklus hidrologi, sungai haruslah dijaga agar dapat berperan dengan baik. Sungai yang tidak termanajemen akan menjadi potensi bahaya bagi kehidupan, terutama ketika terjadi luapan saat hujan ataupun adanya penambahan kuantitas air dari sumber mata air yang lain.
Sungai juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak makhluk hidup baik dari mikroorganisme, tumbuhan, hewan serta manusia. Oleh karena itu untuk memanajemen sungai tersebut juga harus memperhatikan faktor-faktor untuk menjaga ekosistem sebagai tempat hidup.Selain itu, diperlukan sebuah manajemen yang terpadu untuk mengelola sungai agar tidak begitu memberikan ancaman bahaya bagi populasi yang disekitarnya

1.2 Tujuan

1. Mengetahui Definisi Sungai secara umum
2. Mengklasifikasikan Sungai
3. Memahami Daerah Aliran Sungai (DAS)
4. mengetahui masalah dari Daerah Aliran Sungai (DAS)
5. Memberikan solusi dari permasalahan DAS
6. Mengetahui resiko pencemaran sungai

1.3 Rumusan Masalah

1. Apakah yang disebut sungai
2. Apakah yang disebut DAS
3. Mengapa DAS dapat bermasalah
4. Bagaimanakah pengendalian sungai yang terpadu

BAB II
ISI

2.1 Definisi Sungai

Sungai merupakan tempat air tawar mengalir yang datangnya dari hulu, baik dari gunung maupun air hujan. Menurut Anonim (2012), sungai merupakan bagian dari bentuk permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah. Sungai juga menjadi kebutuhan bagi sebagian makhluk hidup termasuk manusia. Aliran airnya dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik, selain itu kebutuhan akan air pun biasanya diambil dari sungai.
Sungai adalah salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Air sungai mengalir dari tempat sumber air yang disebut hulu sungai hingga ke daerah hilir atau muara dan berakhir di laut (Anne, 2012).
Selain sebagai jalur air tawar sungai juga merupakan tempat ekosistem beberapa organisme, baik mikroorganisme hingga makroorganisme, ini merupakan hal yang penting untuk menjaga kelangsungan ekosistem yang bergantung pada sungai. Air sungai mengalir di atas tanah yang dibatasi tanggul, tetapi pada sungai buatan ada tanggul yang disusun oleh semen hal ini menyebabkan beberapa organisme tidak bisa hidup.

2.2 Klasifikasi Sungai

Berdasarkan sumber airnya, sungai dibagi atas sungai hujan, gletsyer dan campuran. Sedangkan jika berdasarkan aliran airnya sungai dibagi atas sungai konsekuen, inkonsekuen, subsekuen, obsekuen dan resekuen. Meskipun hingga saat ini seperti yang telah dikatakan di atas sungai juga dapat dibagi atas sungai alami dan sungai buatan. Sungai alami adalah sungai yang terbentuk atau tepatnya dibentuk oleh alam, berasal dari aliran air yang terjadi di atas daratan. Sedangkan sungai buatan adalah sungai yang dibuat oleh manusia, sungai berasal dari aliran air yang ditujukan untuk bermacam kebutuhan mulai dari sumber air hingga pembangkit energi (Anonim, 2010).
Sungai hujan banyak ditemui di daerah tropis, akibat memiliki iklim yang basah. Sungai gletser adalah sungai yang terbentuk akibat dari es yang mencair, biasanya sungai ini banyak ditemui di daerah kutub dan eropa bagian utara, akibat cuaca disana yang sangat dingin. Sungai campuran adalah sungai yang alirannya bersumber dari air hujan dan mencairnya es. Sungai ini dapat ditemui di daerah Papua. Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatur (drainage) utama. Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin, drainage area, atau river basin. Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistem aliran yang satu dari yang lainnya. Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah.
Batas DAS kebanyakan tidak sama dengan batas wilayah administrasi. Akibatnya sebuah DAS bisa berada pada lebih dari satu wilayah administrasi. Ada DAS yang meliputi wilayah beberapa negara (misalnya DAS Mekong), beberapa wilayah kabupaten (misalnya DAS Brantas), atau hanya pada sebagian dari suatu kabupaten.
Tidak ada ukuran baku (definitif) suatu DAS, ukurannya mungkin bervariasi dari beberapa hektar sampai ribuan hektar. DAS Mikro atau tampungan mikro (micro catchment) adalah suatu cekungan pada bentang lahan yang airnya mengalir pada suatu parit. Parit tersebut kemungkinan mempunyai aliran selama dan sesaat sesudah hujan turun (intermitten flow) atau ada pula yang aliran airnya sepanjang tahun (perennial flow) (Fahmudin dan Widianto, 2004). Sebidang lahan dapat dianggap sebagai DAS jika ada suatu titik penyalur aliran air keluar dari DAS tersebut. Sebuah DAS yang menjadi bagian dari DAS yang lebih besar dinamakan sub DAS; merupakan daerah tangkapan air dari anak sungai.

2.3 Ruang Lingkup Daerah Aliran Sungai (DAS)

Menurut Fahmudin dan Widianto (2004), DAS dapat dibagi ke dalam tiga komponen yaitu: bagian hulu, tengah dan hilir. Ekosistem bagian hulu merupakan daerah tangkapan air utama dan pengatur aliran. Ekosistem tengah sebagai daerah distributor dan pengatur air, sedangkan ekosistem hilir merupakan pemakai air. Hubungan antara ekosistem-ekosistem ini menjadikan DAS sebagai satu kesatuan hidrologis. Di dalam DAS terintegrasi berbagai faktor yang dapat mengarah kepada kelestarian atau degradasi tergantung bagaimana suatu DAS dikelola.
Di pegunungan, di dataran tinggi dan dataran rendah sampai di pantai dijumpai iklim, geologi, hidrologi, tanah dan vegetasi yang saling berinteraksi membangun ekosistem. Setiap ekosistem di dalam DAS memiliki komponen hidup dan tak-hidup yang saling berinteraksi. Memahami sebuah DAS berarti belajar tentang segala proses-proses alami yang terjadi dalam batas sebuah DAS.

Sebuah DAS yang sehat dapat menyediakan:
• Unsur hara bagi tumbuh-tumbuhan
• Sumber makanan bagi manusia dan hewan
• Air minum yang sehat bagi manusia dan makhluk lainnya
• Tempat berbagai aktivitas manusia dan hewan

2.4 Permasalahan DAS

Beberapa proses alami dalam DAS bisa memberikan dampak menguntungkan kepada sebagian kawasan DAS tetapi pada saat yang sama bisa merugikan bagian yang lain. Banjir di satu sisi memberikan tambahan tanah pada dataran banjir tetapi untuk sementara memberikan dampak negatif kepada manusia dan kehidupan lain.
Masalah DAS pada dasarnya dapat dibagi menjadi:
a. Kuantitas (jumlah) air
o Banjir dan kekeringan
o Menurunnya tinggi muka air tanah
o Tingginya fluktuasi debit puncak dengan debit dasar.
b. Kualitas air
o Tingginya erosi dan sedimentasi di sungai
o Tercemarnya air sungai dan air tanah oleh bahan beracun dan berbahaya
o Tercemarnya air sungai dan air danau oleh hara seperti N dan P (eutrofikasi)
Masalah ini perlu dipahami sebelum dilakukan tindakan pengelolaan DAS. Sebagai contoh, apabila masalah utama DAS adalah kurangnya debit air sungai untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA), maka penanaman pohon secara intensif tidak akan mampu meningkatkan hasil air. Seperti telah diterangkan terdahulu, pohon-pohonan mengkonsumsi air lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pertanian semusim dan tajuk pohon-pohonan mengintersepsi sebagian air hujan dan menguapkannya kembali ke udara sebelum mencapai permukaan tanah.
Masalah utama suatu DAS adalah kerawanan terhadap banjir maka teknik yang dapat ditempuh adalah dengan mengusahakan agar air lebih banyak meresap ke dalam tanah di hulu dan di bagian tengah DAS. Usaha ini dapat ditempuh dengan menanam pohon dan/atau dengan tindakan konservasi sipil teknis seperti pembuatan sumur resapan, rorak dan sebagainya.
Apabila yang menjadi masalah DAS adalah tingginya sedimentasi di sungai maka pilihan teknik konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki fungsi filter dari DAS. Peningkatan fungsi filter dapat ditempuh dengan penanaman rumput, belukar, dan pohon pohonan atau dengan membuat bangunan jebakan sedimen (sediment trap). Apabila menggunakan metode vegetatif, maka penempatan tanaman di dalam suatu DAS menjadi penting. Penanaman tanaman permanen pada luasan sekitar 10% saja dari luas DAS, mungkin sudah sangat efektif dalam mengurangi sedimentasi ke sungai asalkan tanaman tersebut ditanam pada tempat yang benar-benar menjadi masalah, misalnya pada zone riparian (zone penyangga di kiri kanan sungai).
Apabila suatu DAS dihutankan kembali maka pengaruhnya terhadap tata air DAS akan memakan waktu puluhan tahun. Pencegahan penebangan hutan jauh lebih penting dari pada membiarkan penebangan hutan dan menanami kembali lahan gundul dengan pohonpohonan.
Lagipula apabila penanaman pohon dipilih sebagai metode pengatur tata air DAS, penanamannya harus mencakup sebagian besar wilayah DAS tersebut. Jika hanya 20- 30% dari wilayah DAS ditanami, pengaruhnya terhadap tata air mungkin tidak nyata.

2.5 Manajemen DAS

Penyebaran tanaman kayu-kayuan secara merata dalam suatu DAS tidak terlalu memberikan arti dalam menurunkan sedimentasi. Menurut Fahmudin dan Widianto (2004), berikut masalah DAS dan alternatif teknologi yang dapat dipilih untuk mengatasinya.
Dalam memanajemen sungai hal yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah bagaimana memanajemen biosfer pada umumnya. Seperti yang kita ketahui biosfer bukan hanya untuk tempat tinggal manusia, banyak organisme lainnya yang bergantung pada biosfer yang kita tempati ini. Dalam memanajemen sungai tidak hanya mengalirkan air pada tempat yang kita butuhkan akan tetapi juga tidak merusak ekosistem.
Dalam proses mengalirnya, sungai dapat tercemar. Air yang tercemar adalah air yang apabila warna, bau, dan rasanya berubah. Biasanya sungai dicemari oleh perbuatan buruk manusia. Contohnya adalah membuang sampah rumah tangga ke sungai dan aktifitas pembuangan limbah industri. Sampah yang dibuang tidak hanya sampah organik, namun ada juga sampah non-organik yang sulit terdegradasi. Walaupun sudah ada peringatan jangan membuang sampah, tetap saja slogan tersebut tidak diindahkan.
Pada industri-industri yang lokasinya dekat dengan sungai, pembuangan limbahnya akan dialirkan ke sungai. limbah yang dibuang dari beberapa industri mengandung logam berat seperti merkuri yang dapat mencemari sungai.
Dengan tercemarnya sungai, dapat disebutkan akibat yang ditimbulkan dari beberapa aspek, antara lain : 1) Kesehatan umumnya, penyebab yang ditimbulkan akan berisiko pada kesehatan. Penyakit seperti diare dan gangguan pencernaan akan diderita bagi siapa saja mengkonsumsi air yang tercemar. 2) Ekonomi, air sungai yang tercemar akan mengganggu stabilitas ekonomi. Kebutuhan akan air bersih sangat diperhatikan oleh orang-orang. Jika air bersih sedikit jumlahnya, maka diperlukan teknologi – memerlukan investasi – yang dapat mengolah air yang tercemar. Pada akhirnya, hal ini pun menjadi suatu pemborosan. Selain itu, dari populasi ikan yang hidup di sungai akan berkurang jumlahnya. Hal ini dapat merugikan warga yang berprofesi sebagai penangkap ikan atau nelayan. 3) Ekologi, jika ditinjau dari aspek ini, bahaya yang ditimbulkan berasal dari ancaman banjir. Banjir dapat mengganggu interaksi komponen abiotik dan biotik yang berada di sekitar sungai. 4). Sosial, banjir juga dapat merusak tempat tinggal atau rumah warga. Hal ini menyebabkan banyak warga yang harus mengungsi ke pos-pos pengungsian. Sehingga banyak aktifitas yang terhambat, seperti anak-anak yang tidak bisa bermain seperti biasanya. 5) Budaya, akibat banjir anak-anak jadi sulit untuk pergi sekolah, bahkan diliburkan.
Banjir merupakan kondisi dimana keadaan sungai meluap hingga masuk ke dataran. Banjir dapat terjadi akibat buruknya penyaluran air. Hal ini umumnya disebabkan karena banyaknya sampah yang tergenang atau membangun rumah di bantaran sungai. Di ibukota Jakarta, hampir setiap tahunnya mengalami bencana banjir yang bersumber dari sungai ciliwung. Di daerah tersebut pintu air tidak dapat menampung air dan sampah yang mengapung sehingga ketika terjadi penambahan kuantitas air terjadi luapan. Untuk itu diperlukan penanganan yang baik terhadap sungai agar dapat mengurangi resiko banjir.
Masalah utama yang dihadapi dalam pengaturan aliran air adalah bagaimana air tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan manusia serta tidak menyebabkan adanya luapan ketika terjadi penambahan kuantitas air pada sungai. Beberapa manfaat dalam pengaturan aliran sungai seperti pembangkit tenaga listrik dan pengairan pada sawah telah banyak dilakukan sampai saat ini, cara yang umum digunakan adalah adanya pembuatan pintu air di daerah hilir.
Pintu air ini berfungsi mengatur aliran air yang digunakan untuk keperluan manusia serta jika terjadi luapan akan dapat di keluarkan atau dibuka untuk langsung mengalir ke laut. Pintu air ini menahan aliran air sesuai kapasitas yang diperlukan yang dapat dimanfaatkan, serta di beberapa tempat dijadikan tempat budidaya ikan air tawar.

2.6 Manajemen Banjir

Dalam mengatasi segala ancaman bahaya yang ditimbulkan sungai, maka diperlukan manajemen dalam hal pengendalian sungai tersebut. Salah satu ancaman yang paling dikhawatirkan adalah bencana banjir. Berikut akan dijelaskan berbagai macam pengendalian yang dapat dilakukan.
Ada berbagai macam cara pengendalian ancaman bahaya banjir, antara lain : kesiapsiagaan menghadapi banjir dan penanggulangan bencana banjir. Kesiapsiagaan menghadapi banjir merupakan langkah awal untuk mengatasi resiko bencana ini. Kesiapsiagaan ini dapat memberikan kita kesempatan untuk mengamankan sesuatu yang perlu diamankan. Kesiapsiagaan dapat kita ketahui dari ramalan-ramalan yang ditayangkan oleh media, komunikasi yang efektif, dan pemberitaan.
Langkah kedua adalah penanggulangan bencana banjir. Cara yang dapat dilakukan antara lain: 1) mencegah pembuangan sampah di sungai, 2) pemindahan rumah-rumah warga yang berada di bantaran sungai, 3) memperbaiki daerah aliran sungai.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sungai adalah salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Air sungai mengalir dari tempat sumber air yang disebut hulu sungai hingga ke daerah hilir atau muara dan berakhir di laut.
Berdasarkan sumber airnya, sungai dibagi atas sungai hujan, gletsyer dan campuran. Sedangkan jika berdasarkan aliran airnya sungai dibagi atas sungai konsekuen, inkonsekuen, subsekuen, obsekuen dan resekuen. Meskipun hingga saat ini seperti yang telah dikatakan di atas sungai juga dapat dibagi atas sungai alami dan sungai buatan.
Menurut Fahmudin dan Widianto (2004), DAS dapat dibagi ke dalam tiga komponen yaitu: bagian hulu, tengah dan hilir. Dalam memanajemen sungai hal yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah bagaimana memanajemen biosfer pada umumnya. Seperti yang kita ketahui biosfer bukan hanya untuk tempat tinggal manusia, banyak organisme lainnya yang bergantung pada biosfer yang kita tempati ini. Dalam memanajemen sungai tidak hanya mengalirkan air pada tempat yang kita butuhkan akan tetapi juga tidak merusak ekosistem.

3.2 Saran

Sebaiknya pengelolaan sungai yang terpadu harus segera diterapkan di berbagai daerah di Indonesia, terutama pada daerah-daerah yang sering mengalami banjir. Serta masyarakat disadarkan akan pentingnya pengendalian aliran sungai yang sehat agar tidak terjadi bermacam bahaya baik fisik, ekonomi hingga kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahira, Anne (2012). Mengenal Jenis Sungai. http://www.anneahira.com/jenis-sungai.htm .[terhubung berkala] 5 Mei 2012

Anonim (2010). Pengertian dan Macam-macam Sungai. http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2068816-pengertian-dan-macam-macam-sungai/ [terhubung berkala] 5 Mei 2012

Anonim (2012). Sungai. http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai [tehubung berkala] 5 Mei 2012

Fahmudin, Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktik Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering . Bogor: World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia. Hal 3 – 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: